Minggu, 14 November 2010

Pelukku



Haiii bertemu kembali di minggu malam.
Sudah kerumah Tuhan?
Yup, saya bersama kaka berboncengan ke gereja dan seperti biasa wuzzz. Saya sangat menyukai aktivitas mingguan saya ini.
Maaf atas blog yang saya buat sabtu kemarin. Sangat tidak layak untuk dikatakan. Seperti judulnya 'demam gila' itu adalah efek dari 'fakir asmara' di malam minggu. Maafkan ya!!!

Hari ini saya ingin menulis sebuah cuplik dari buku yang saya baca karya Dee : 'RectoVerso'.
Dan bagian yang saya suka berjudul 'Peluk' -song-

Menahun, kutunggu kata-kata
Yang merangkum semua
Dan kini kuharap ku dimengerti
Walau sekali saja pelukku

Tiada yang tersembunyi
Tak perlu mengingkari
Rasa sakitmu
Rasa sakitku

Tiada lagi alasan
Inilah kejujuran
Pedih adanya
Namun ini jawabnya

Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Karena kaulah satu yang kusayang
Dan tak layak kau didera

Sadari diriku pun kan sendiri
Di dini hari yang sepi
Tetapi apalah arti bersama, berdua
Namun semu semata

Tiada yang terobati
Di dalam peluk ini
Tapi rasakan semua
Sebelum kau kulepas selamanya

Tak juga kupaksakan
Setitik pengertian
Bahwa ini adanya
Cinta yang tak lagi sama

Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Karena kaulah satu yang kusayang
Dan tak layak kau didera

Dan kini kuharap ku dimengerti
Walau sekali saja pelukku

Saya tersentuh membaca ceritanya. Rasanya cerita ini pernah saya alami.
Mungkin sambil menyanyikan lagunya sedikit merasakan 'rasa' sesungguhnya.
Ada satu paragraf yang saya renungkan...

'Namun kurasa hatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. Jika malam ini kita memutuskan untuk terus bersama, itu karena kita tidak tahu bagaimana menangani kesendirian. Aku tidak ingin bersamamu cuma karena enggan sendiri. Kau tak layak untuk itu. Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.'

Dan kalimat itu membuat saya menemukan arti dari kebersamaan yang saya mau. Saya akui ketika mengatakan bahwa dengan siapapun saya menikah kelak, saya tidak perduli. Toh dua manusia yang awalnya saling mencintaipun akan berpisah. Itu semua telah berubah, saya perduli. Kini saya menginginkan seseorang yang tidak bosan saya pandangi ketika bangun tidur, merindukan suaranya dan yang menggenggam tangan saya untuk memastikan bahwa saya masih akan tetap utuh dan baik menjalani kehidupan. Juga sebuah kecupan dan pelukan yang saya dambakan setiap hari. Saya tidak ingin hidup bersama seseorang yang tidak saya kenal.

Kini bukan tentang 'siapapun dia' tetapi harus 'seseorang' yang saya harapkan menghabiskan waktu selama 2/3 kehidupan saya kelak.
Semoga waktu yang tepat akan datang dengan pilihan yang tepat pula. Saya tidak lagi merasa takut sendiri. Dan saya tahu seperti apa seseorang yang saya harapkan.


Note :
~ 15 menit ke gereja. Rekor tercepat.
~ Menjadi pribadi baik tidak harus menunggu esok. Bisa dimulai hari ini.
~ Menari dan menangis di malam hari mampu menghalau galau. Kau bisa menjadi hening dan bening.