
Dear sic,
Dengan ini saya ingin bercerita. Tentang kamu dan kita.
Ada hal yang kamu takkan pernah tahu, mungkin. Disini sejak hari itu, saya bermimpi seperti seorang putri yang sedang berjalan dengan pangeran, dalam sosok yang berbeda. Dan sekejap saya menjadi seperti juliet yang merasa ditinggal mati romeo. Panah cupid hanya melintasi dinding hati saya, tak tertancap.
Sekarang, saya merasa seperti virus atau penyakit mematikan yang harus kamu jauhi. Sedetik saya berada disampingmu, kemudian kamu menghilang. Saya tahu kamu telah bahagia. Tapi bukan itu caranya perlakukan saya. Apa saya pernah sekali saja merusak bahagiamu?
Dalam diam saya tersenyum melihatmu menjauh, walau aliran sedih menjalar dan menerkam jantung saya. Di terangnya malam saya berpikir, apa ini jalannya?. Seakan alam berbahasa bahwa kamu memang takkan pernah hadir dalam hidup saya.
Saya tidak buta walau tidak peka. Tapi saya merasa, mengerti dan mencoba memahami. Inilah alur dari rasa saya yang tidak berlabuh dirasamu.
Kita, kata itu terasa janggal di telinga saya saat ini. Sepertinya telah menahun tak pernah bersama. Tak ada kebersamaan hanya semu semata. Mencoba berlari dari kenyataan. Kata-kata yang terucap seperti basa basi yang sama-sama kita ketahui. Memang tak seharusnya ada 'kita'.
Harusnya kita duduk bersama, berbincang dari hati ke hati atau tetap diam biar rasa yang bicara. Hanya pelukan atau genggaman yang saya butuhkan untuk menyakinkan bahwa dulu saya tidak bermimpi. Saya pernah mengenalmu, menggenggammu dan memelukmu. Untuk buktikan itu nyata.
Adakah yang terlupa dan terlewat tanpa kita sadari. Atau memang harus dilupakan dan dilewati, tanpa saya tahu?
Jika kamu ingin menghilang, hilanglah tanpa jejak. Jangan berada satu area yang sama dengan saya, satu kalipun. Karena keberadaanmu yang tiba-tiba menghilang saat saya ada, hanya akan melukai saya. Biarlah saya berpikir bahwa takdir yang menghendaki perpisahan ini, bukan kamu.
Saya telah merelakan setiap keping kenangan. Tapi setiap saya melihatmu, saya merasa keping itu kembali lagi. Bolehkan jika saya menginginkan keping dari sosok yang berbeda?
Hidup saya bukanlah terminal, stasiun atau bandara dimana kamu dapat singgah sesaat kemudian pergi. Lalu kembali dan pergi lagi. Lelah.
Bukan begini caranya. Temukan cara yang layak menghilang dari hidup saya. Agar saya dapat berlalu dari mimpi yang telah tertanam lama dalam nurani saya.
With hope,
Someone