
Selama seminggu ini aneh sekali...
Ada perasaan yang tidak saya suka 'benci'.
Entah mengapa rasa ini kuat sekali, sampai saya sesak napas.
Ini keputusan yang mungkin saya inginkan. Menjadi 'sendiri'. Dan kini tekad itu semakin bulat karena 'benci'.
Saya tidak lelah untuk berpikir tenang sosok itu, hanya sudah mencapai titik jenuh yang teramat sangat. Dan itu membuat saya mati rasa. Tapi kesedihan karena kehilangan terus menghantui walau tidak sesakit dahulu.
Saya telah meninggalkan satu persatu. Dengan menghindar, dengan bicara dan dengan bersahabat. Biarlah semua berlalu. Walau meninggalkan sebuah rasa 'benci dihati saya.
Saya 'benci' mengakui bahwa untuk pergi itu sulit sekali. Mungkin saya tidak melupakan tapi menghindari. Dan saya mungkin tidak tahu apa yang terjadi jika saya harus berhadapan dengan kenyataan itu.
Dan yang semakin memberatkan adalah 'melihatnya bahagia' dengan yang lain. Bukan dengan saya. Seolah merasa tercampak dan tak diinginkan membuat saya jadi makin bersedih. Dan kembali pada keputusan yang pernah saya doakan. Seolah ini menjadi jawaban atas semua pertanyaan itu.
Saya akui tak setegar itu.
Dan saya bahkan tidak berani menghadapinya.
Konyol memang...
Tapi sudahlah...
Untuk menjadi pandai haruslah melewati ribuan kekonyolan dan ketololan.
Jika memang itu jalannya, maka harus iklas melaluinya.
Selamat tinggal kamu,
Dengan penuh 'kebencian' ku utarakan bahwa kamu itu JAAAAHHHHAAAATTTTT
Note :
~ Malam minggu seperti menderita demam gila
~ Mengucapkan selamat berpisah pada 'freakman'
~ Mengucapkan dengan halus kata perpisahan pada 'sic'
~ Menghindari kenyataaan dengan 'G'
~ Memutuskan menjadi 'sendiri'