Jumat, 20 Agustus 2010

Yang Pertama


Pernah terbayang satu hal yang menyebalkan. Kata maaf yang selalu datang terlambat. Setelah semua amarah dan sedih mendera kata itu terucap. Kata maaf yang terlambat justru hanya menambah luka.
Aku benci meminta maaf tapi aku lebih benci menunggu kata maaf.

Renungan diatas mengingatkan aku pada hari dimana hujan turun begitu deras, tepat disaat patah hatiku. Aku mengharapkan sebuah kata maaf dari seseorang yang telah tidak mau mengerti, memahami dan menanyakan sebuah kebenaran. Dia pergi begitu saja...
Waktu pun berlalu, setelah semua usaha dan berbagai cara untuk memperbaiki semua ini menjadi percuma, dia datang kembali. Memandangku dan mengatakan satu kata yang sekian waktu lalu ku nantikan. 'Maaf' terdengar seperti angin lalu yang melewati musim panas. Hanya satu detik kesejukan kemudian berlalu begitu saja.
Yang pertama dalam hati ini telah menyakiti sedemikian rupa. Lukanya tak mau pergi. Meski kata maaf telah terlontar begitu tulus.
Haruskah ada kesempatan menerimamu kembali?
Kali ini aku yang merasa sangat berat untuk mengucapkan 'maaf'. Andai luka ini dapat pergi jauh maka aku akan berkata 'iya'. Tapi semua itu menyakitkan. Karena kata maaf yang terlambat.
Kali ini dia datang lagi ingin singgah kembali. Setelah perjalanan sekian lama terpisah, aku menyadari bahwa aku harus jadi yang pertama. Tidak seperti dulu saat bersamanya selalu menjadi yang ke sekian, tak penting.
Aku ingin menjadi yang terakhir untuk menjadi yang pertama menemani seseorang di puluhan tahun kedepan.
Sanggupkah kau lupakan aku? seperti yang pernah kutanyakan dulu ketika kau tidak kembali. Kini semua terjawab disaat aku dengan mudahnya beranjak pergi saat kau datang.
Lupakan semua kisah mungkin aku jadi yang pertama yang kau kenang dengan indah seperti katamu. Tapi aku tidak ingin menjadi akhir dalam hidupmu.
Kini maafkan aku yang menolakmu kembali menghuni kuil hidupku.
Sampai jumpa dilain waktu dengan hati yang tenang.
Aku tidak bisa mengingatmu dalam sosok terindah. Maaf !!!!