Sabtu, 28 Agustus 2010

Oh Haruskah?


Ternyata dari sekian banyak hal yang diharapkan.

Pengharapan orang tua terasa sangat menyakitkan. Aku ingin jadi pribadi yang baik bahkan lebih baik. Tapi jika aku tidak mampu dan tidak sesuai dengan harapan orangtua, aku hanya bisa bersedih. Umurku sudah ingin mencapai kepala tiga, tapi entah mengapa seolah jalan hidupku ini tanpa aku sadari berada dibawah tali kekang. Kesensitifan diriku ternyata tak mengubah apapun, malah membuatku semakin tenggelam dalam ketidakberdayaan. Apa yang harus aku lakukan untuk membuat diriku menghilang walau sejenak.
Pernah terpikir untuk memulai kehidupan sendiri. Kehidupan baru bersama seseorang. Tanpa ada maksud untuk berlari atau melepaskan dari tali kekang. Tuhan, hati ini terasa berat sekali mengakui bahwa selama ini belum juga dapat memenuhi apa yang menjadi kewajiban dari status sebagai anak. Jika memang pernikahan dapat mengurangi sebagian beban kewajiban itu, aku ingin melakukannya. Biarlah ku pasrahkan siapapun pasanganku.
Rasanya juga semakin berat ketika beberapa mantan kekasihku pun selalu terlihat kurang dimata orangtuaku. Seolah aku dapat meraih bulan. Itu menyesakkan hati dan jiwaku. Aku hanya ingin hidup dengan sederhana, mencintai dengan sederhana karena aku tidak ingin menjadikan diriku luar biasa. Aku tidak ingin hal yang berlebihan, karena semua hal yang berlebihan harus dipertanggungjawabkan. Setidaknya aku tidak harus memanggul hidup dengan luar biasa.
Andai ada kesempatan aku untuk lebih jujur mengenai apa yang benar benar aku inginkan dan harus aku perjuangkan, aku ingin melakukannya. Tapi sepertinya tali kekang ini mengikatku cukup erat hingga merasuki pikiran dan pencapaianku.
Apa yang harus kulakukan?
Saat aku menulis blog ini ada beban karena harapan yang dilontarkan orang tua semalam. Dan aku merasa tak sanggup untuk memikul beban ini terlalu lama. Semakin usiaku bertambah keinginan mereka tidak semakin berkurang. Adakah dibalik tubuh yang kecil ini sanggup memenuhi semua harapan mereka. Aku sendiri merasa tidak mampu. Dan itu membuat aku menjadi lelah.
Semalam aku sama sekali tidak nafsu untuk makan atau untuk melakukan apapun. Aku benci keadaan ini. Dan aku benci pada diriku sendiri, yang masih menginginkan hidup terlalu lama. Aku benci semua ini. Dan aku tidak tahu harus berlari kemana. Aku menganggap diriku terjebak dalam kubangan rawa yang semakin hari semakin menghisapku, membuatku tak bisa bernapas. Haruskah aku mengakhiri semua ini. Sanggupkah aku untuk berjuang kembali. Atau aku harus terdiam dan tidak melangkah lagi.
Berikan aku pilihan hidup yang mampu kujalani dengan menjadi pribadi yang baik dan MANDIRI.

Jumat, 20 Agustus 2010

Yang Pertama


Pernah terbayang satu hal yang menyebalkan. Kata maaf yang selalu datang terlambat. Setelah semua amarah dan sedih mendera kata itu terucap. Kata maaf yang terlambat justru hanya menambah luka.
Aku benci meminta maaf tapi aku lebih benci menunggu kata maaf.

Renungan diatas mengingatkan aku pada hari dimana hujan turun begitu deras, tepat disaat patah hatiku. Aku mengharapkan sebuah kata maaf dari seseorang yang telah tidak mau mengerti, memahami dan menanyakan sebuah kebenaran. Dia pergi begitu saja...
Waktu pun berlalu, setelah semua usaha dan berbagai cara untuk memperbaiki semua ini menjadi percuma, dia datang kembali. Memandangku dan mengatakan satu kata yang sekian waktu lalu ku nantikan. 'Maaf' terdengar seperti angin lalu yang melewati musim panas. Hanya satu detik kesejukan kemudian berlalu begitu saja.
Yang pertama dalam hati ini telah menyakiti sedemikian rupa. Lukanya tak mau pergi. Meski kata maaf telah terlontar begitu tulus.
Haruskah ada kesempatan menerimamu kembali?
Kali ini aku yang merasa sangat berat untuk mengucapkan 'maaf'. Andai luka ini dapat pergi jauh maka aku akan berkata 'iya'. Tapi semua itu menyakitkan. Karena kata maaf yang terlambat.
Kali ini dia datang lagi ingin singgah kembali. Setelah perjalanan sekian lama terpisah, aku menyadari bahwa aku harus jadi yang pertama. Tidak seperti dulu saat bersamanya selalu menjadi yang ke sekian, tak penting.
Aku ingin menjadi yang terakhir untuk menjadi yang pertama menemani seseorang di puluhan tahun kedepan.
Sanggupkah kau lupakan aku? seperti yang pernah kutanyakan dulu ketika kau tidak kembali. Kini semua terjawab disaat aku dengan mudahnya beranjak pergi saat kau datang.
Lupakan semua kisah mungkin aku jadi yang pertama yang kau kenang dengan indah seperti katamu. Tapi aku tidak ingin menjadi akhir dalam hidupmu.
Kini maafkan aku yang menolakmu kembali menghuni kuil hidupku.
Sampai jumpa dilain waktu dengan hati yang tenang.
Aku tidak bisa mengingatmu dalam sosok terindah. Maaf !!!!


Kamis, 19 Agustus 2010

Bahagia Kecil

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat..
Dan aku masih harus menyelesaikan kewajiban sebagai anak karena aku masih belum diberi kesempatan untuk menunaikan hal lain yang menyempurnakan keinginan mereka sebagai orang tua. Dan pernikahan bagiku adalah pelepas beban bagi mereka.
Hari-hari yang kulalui dalam minggu ini dan minggu2 kedepan sungguh membuatku bahagia. Cinta adalah meletakkan kebahagiaan orang lain diatas kebahagiaan diri sendiri. Dan cinta kepada Tuhan dan orangtua adalah hal terpenting saat ini.
Tuhan memberikan banyak hal baik dalam hidupku karena ingn aku berbuat lebih baik lagi dari apa yang telah diberikan. Setiap pagi aku menghayati ini, dan rasanya menyenangkan serta menenangkan :D
Kebahagiaan yang kecil tapi menyenangkan untuk dirasakan dalam jiwa.


note : Seharusnya kita bisa menjadi lebih baik ketika kita menjalani hidup terpisah dari mantan kekasih kita. Karena jika tidak kita akan terus merasa kecil dan terpencil. Seolah olah kita telah melakukan suatu kebodohan besar di masa lalu. #curhat pribadi

Jumat, 13 Agustus 2010

agustus semangat

Agustus telah berjalan ......

Setelah sekian lama tidak update, hari ini adalah hari pertama update lagi melalui speedy di rumah. Banyak hal yang telah terlewatkan karena vakum dan fokus pada pengobatan paru-paru.

Ada yang hilang dan ada yang datang...
seperti halnya rasa kesepian kini terasa mendekap hangat bagai sebuah mimpi.
Aku berjalan terus seolah tidak peduli. Dan aku tidak berlari karena aku sudah pernah berlari begitu cepat hingga aku lelah. Kini semua berjalan begitu damai. Ada hal besar yang begitu membuatku bersemangat yaitu kebahagiaan orang yang aku sayangi.
Takkan lagi ada rasa kecewa, sakit hati ataupun benci. Aku telah mengikhlaskan semua itu. Karena aku percaya Tuhan punya rencana yang sangat indah.
Hari ini jika aku bersedih maka aku akan menangis, tidak seperti dulu selalu menahan dan berusaha tegar, merapuhkan jiwaku. Dan bila hari ini aku bahagia, maka aku akan tersenyum dan menari, tidak seperti dulu hanya ada senyuman kecil dan kesinisan inginkan lebih.
Aku belum pernah begitu semangat dan ingin berjuang demi kebahagiaan. Bahagia itu dibentuk bukan ditunggu.
Aku ingin tahu apa yang terjadi di masa depan ketika satu persatu hal yang kutapaki menjadi sebuah langkah yang besar. Asal aku tekun dan tetap berusaha membaikkan diri sendiri maka ketenangan dan keikhlasan seolah memalaikatkan diri dan hati ini.

Ayo semangat
Agustus telah datang
Semoga bulan depan membawa perubahan yang baik :D
Amin