
Ternyata dari sekian banyak hal yang diharapkan.
Pengharapan orang tua terasa sangat menyakitkan. Aku ingin jadi pribadi yang baik bahkan lebih baik. Tapi jika aku tidak mampu dan tidak sesuai dengan harapan orangtua, aku hanya bisa bersedih. Umurku sudah ingin mencapai kepala tiga, tapi entah mengapa seolah jalan hidupku ini tanpa aku sadari berada dibawah tali kekang. Kesensitifan diriku ternyata tak mengubah apapun, malah membuatku semakin tenggelam dalam ketidakberdayaan. Apa yang harus aku lakukan untuk membuat diriku menghilang walau sejenak.
Pernah terpikir untuk memulai kehidupan sendiri. Kehidupan baru bersama seseorang. Tanpa ada maksud untuk berlari atau melepaskan dari tali kekang. Tuhan, hati ini terasa berat sekali mengakui bahwa selama ini belum juga dapat memenuhi apa yang menjadi kewajiban dari status sebagai anak. Jika memang pernikahan dapat mengurangi sebagian beban kewajiban itu, aku ingin melakukannya. Biarlah ku pasrahkan siapapun pasanganku.
Rasanya juga semakin berat ketika beberapa mantan kekasihku pun selalu terlihat kurang dimata orangtuaku. Seolah aku dapat meraih bulan. Itu menyesakkan hati dan jiwaku. Aku hanya ingin hidup dengan sederhana, mencintai dengan sederhana karena aku tidak ingin menjadikan diriku luar biasa. Aku tidak ingin hal yang berlebihan, karena semua hal yang berlebihan harus dipertanggungjawabkan. Setidaknya aku tidak harus memanggul hidup dengan luar biasa.
Andai ada kesempatan aku untuk lebih jujur mengenai apa yang benar benar aku inginkan dan harus aku perjuangkan, aku ingin melakukannya. Tapi sepertinya tali kekang ini mengikatku cukup erat hingga merasuki pikiran dan pencapaianku.
Apa yang harus kulakukan?
Saat aku menulis blog ini ada beban karena harapan yang dilontarkan orang tua semalam. Dan aku merasa tak sanggup untuk memikul beban ini terlalu lama. Semakin usiaku bertambah keinginan mereka tidak semakin berkurang. Adakah dibalik tubuh yang kecil ini sanggup memenuhi semua harapan mereka. Aku sendiri merasa tidak mampu. Dan itu membuat aku menjadi lelah.
Semalam aku sama sekali tidak nafsu untuk makan atau untuk melakukan apapun. Aku benci keadaan ini. Dan aku benci pada diriku sendiri, yang masih menginginkan hidup terlalu lama. Aku benci semua ini. Dan aku tidak tahu harus berlari kemana. Aku menganggap diriku terjebak dalam kubangan rawa yang semakin hari semakin menghisapku, membuatku tak bisa bernapas. Haruskah aku mengakhiri semua ini. Sanggupkah aku untuk berjuang kembali. Atau aku harus terdiam dan tidak melangkah lagi.
Berikan aku pilihan hidup yang mampu kujalani dengan menjadi pribadi yang baik dan MANDIRI.
