Kamis, 13 Agustus 2009

Admire



Kekaguman, satu hal yang sangat simple dan imajinatif berupa perwujudan suatu sosok yang saya inginkan, bukan hanya dari cara pemikirannya tapi cara membuat pemikiran itu menjadi nyata.
Tapi kekaguman terhadap seseorang biasanya memperdalam dan membuka jalan saya menuju tahap perbaikan diri. Positif dan imajinatif berpendar menjadi serpihan cantik yang berkeliling di atmosfer otak saya. Karena itu saya tidak terlalu suka untuk berdekatan dengan orang yang saya kagumi.
Alasan yang utama adalah saya tak ingin merusak imajinasi di otak saya yang sudah sempurna untuk sosok itu. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk rentan yang bisa menjadi yin ataupun yang pada saat bersamaan.
Dan saya sekarang ingin bercerita tentang satu sosok yang saya temui melalui perjodohan yang diusahakan teman saya. Singkatnya FANP, cukup saya yang tahu apa kepanjangannya. Dia hadir melalui sentuhan kecil kehidupan di hati saya. Sosoknya yang besar membuat setiap orang pasti nyaman bersamanya, untuk hal itu saya berani bertaruh.
Caranya meraih cita itulah yang saya kagumi. Pelan-pelan saya perhatikan usaha dan ambisinya, diantara kesibukan yang mengepungnya. Dia meraih puncak yang ingin saya raih. Jika ada pepatah yang bilang 'Kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina'. Maka pepatah untuknya adalah 'Kan ku kejar dollar hingga negeri Paman Sam' .
Bohong sekali jika saya tak pernah memikirkan apa yang terpenting untuk masa depan saya. Ya, fundamental segalanya adalah nilai material. Jika saya cukup mampu untuk terus menulis tanpa perlu bekerja menghidupi diri saya sendiri , maka akan saya tinggalkan semuanya demi meraih cita-cita saya. Tapi kenyataannya justru sebaliknya saya harus bunuh jiwa saya demi menghabiskan separuh hari saya di depan komputer untuk bekerja kepada orang lain.
Kembali lagi ke sosok FANP. Dengan keberanian sebesar itu dan perwujudan yang dia lakukan satu demi satu, saya yakin kesuksesan sudah di genggam hanya tinggal menapak tangga lebih tinggi lagi. Dan dalam permohonan saya kepada Yang Maha Memberi, saya titipkan satu doa untuknya.
Jika nanti waktu mempertemukan kami kembali, maka saya ingin sudah menjadi penulis. Saya juga ingin bangga terhadap diri sendiri di depan sosok itu. Dan saya pernah memiliki memory yang tidak akan saya lupa saat mengenal sosoknya. Tatapan mata dan senyuman itu pernah menjadi milik saya walau hanya lima menit. Saya tahu itu. Terdengar lucu, karena menyimpan kenangan yang mungkin tidak penting. Tapi saya sangat menghargai setiap kenangan dari setiap personal yang saya kenal dan pernah menjadi bagian hidup saya.
Jika impian diteriakkan dan ditulis kemudian menjadi alarm dalam otak bawah sadar kita, percayalah hasrat untuk mewujudkannya sangat nyata. Tak perlu melompat, berjalanlah setapak demi setapak. 'Seorang pemenang adalah yang membandingkan apa yang diraihnya dengan target yang dicanangkan. Sedangkan seorang pecundang adalah membandingkan apa yang diraih dengan raihan orang lain.' Tidak perlu kecewa setelah menyadari itu. Itulah kenapa ada kata 'instropeksi'. Lupakan dunia yang menghancurkanmu, tengoklah ke dalam jiwa surammu, cahaya apa yang kau perlukan untuk membuatnya terang.
Setelah kagum dengan seseorang, jadikan diri ini sosok yang bisa dikagumi.
Kelak hal itu bukan lagi khayalan tingkat tinggi. Ada yang menghargai tanda tangan saya saja sudah bisa membuat saya besar kepala, apalagi yang dengan kesungguhan hati mengagumi saya, hahaha...
Oh iya saya cantumkan picture of FANP... like my pa :D