Selasa, 18 Agustus 2009

Priority !!!


Seminggu di weekend panjang karena senin libur dirgahayu RI yang ke 64. Saya menyempatkan waktu untuk hadir pada pesta pernikahan dan acara reuni anak kuliah tim 8. Walaupun sangat melelahkan tapi meninggalkan kesan yang cukup bagi saya, dan saya sangat bahagia menghadiri semua itu.
Diawali hari sabtu tanggal 15 agustus ke acara Joan & Yosie Wedding di King's Restaurant, Cikini. Saya tiba tepat pukul 19.00, jadi saya mengikuti semua proses berlangsungnya dari potong kue sampai berfoto (saya tidak ikut berfoto). Acara yang cukup sederhana elegan dan dibalut nuansa kekeluargaan yang sangat khas. Disini saya hampir saja menghancurkan pesta itu jika saya membawa kabur pengantin pria, apa jadinya. Hal itu sempat terlintas ketika Joan selama pesta berlangsung justru memperhatikan saya. Ach Joan, tampaknya kisah yang dulu bagimu belum berakhir ya. Segera setelah makan saya meninggalkan Cikini, membelah kota jakarta di malam minggu. Banyak seniman jalanan berkeliaran dan juga pasangan kekasih ada dimana-mana. Malam yang membuat perasaan jadi lebih bebas berekspresi.
Hari minggu saya menghadiri reuni di Pasaraya Grande. Bertemu dengan kumpulan wanita membahas rencana ke Cepu untuk Erna's Wedding. Masalah tiket hingga penginapan. Telah diputuskan dan akan segera berangkat pada hari Jum'at di awal oktober.
Malam itu mantan kekasih saya datang hanya untuk berbincang-bincang, kami sempat keluar untuk menikmati roti bakar di daerah Cijantung. Sedikit hal yang dibicarakan, walau ada keinginan diantara kami berdua untuk kembali, tapi entah mengapa malam itu saya sedang tidak ingin berpikir ke arah sana. Saya percaya jodoh di tangan Tuhan. Dia pulang jam setengah sebelas malam.
Merenungi apa keputusan yang akan saya ambil. Ini bukan keputusan sesaat, tapi harus dipikirkan dengan sangat mendetail. Ini adalah keputusan seumur hidup yang harus saya jalani, dan tak ingin menjadi bodoh atau ceroboh hanya karena waktu yang terus berkejaran dengan usia.
Jika pada awalnya seleksi menjadi utama, maka tak ada waktu untuk mengenal seseorang lebih lama jika chemistry tidak ditemukan. Beralih dan mulai mengenal kembali sosok yang baru.
Tapi dibalik semua itu menghabiskan waktu seumur hidup dengan seseorang itu menyenangkan. Tapi dengan siapa saya akan menghabiskannya, itu lebih penting dari seumur hidup itu sendiri.
Dan langkah pertama saya adalah menghabiskan waktu dengan ambisi saya. Itulah mengapa hasrat saya tentang cinta sedikit sekali terpikirkan. Pasti ada waktunya. Saya tidak menyisihkan, tapi sedikit lebih membagi porsi yang lebih kecil kepada hal yang tidak pasti. Karena ada hal yang lebih besar yang harus mendapat perhatian saya.
Dan perjalanan weekend kemarin mengantar saya pada satu jendela jiwa yang ingin saya raih. Perenungan yang singkat tapi mengantar saya pada satu langkah yang harus saya lalui.
Dan ternyata resolusi itu tidak harus dipaksakan. Itu akan datang melalui suatu harapan dan doa. Maka tidak lagi terbebani ketika delapan bulan berlalu dan impian saya tentang resolusi itu terbuka lebar di lembar yang pernah saya tuliskan. Tak ada penyesalan, karena saya juga tahu kemampuan saya untuk meraihnya. Dan saat itu saya tersadar mungkin jika menjalani bersama seseorang lebih fokus pada satu tujuan. Tapi sudahlah toch cinta sekarang bukan prioritas utama lagi.
Lalu apa prioritas saya : yang pertama tentu kepada Tuhan, kemudian impian saya, cita, keluarga, cinta dan sekitar saya.
Tak ada yang saya inginkan saat ini selain mewujudkan impian saya.
And full hope i wish my dream comes true...

Kamis, 13 Agustus 2009

Admire



Kekaguman, satu hal yang sangat simple dan imajinatif berupa perwujudan suatu sosok yang saya inginkan, bukan hanya dari cara pemikirannya tapi cara membuat pemikiran itu menjadi nyata.
Tapi kekaguman terhadap seseorang biasanya memperdalam dan membuka jalan saya menuju tahap perbaikan diri. Positif dan imajinatif berpendar menjadi serpihan cantik yang berkeliling di atmosfer otak saya. Karena itu saya tidak terlalu suka untuk berdekatan dengan orang yang saya kagumi.
Alasan yang utama adalah saya tak ingin merusak imajinasi di otak saya yang sudah sempurna untuk sosok itu. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk rentan yang bisa menjadi yin ataupun yang pada saat bersamaan.
Dan saya sekarang ingin bercerita tentang satu sosok yang saya temui melalui perjodohan yang diusahakan teman saya. Singkatnya FANP, cukup saya yang tahu apa kepanjangannya. Dia hadir melalui sentuhan kecil kehidupan di hati saya. Sosoknya yang besar membuat setiap orang pasti nyaman bersamanya, untuk hal itu saya berani bertaruh.
Caranya meraih cita itulah yang saya kagumi. Pelan-pelan saya perhatikan usaha dan ambisinya, diantara kesibukan yang mengepungnya. Dia meraih puncak yang ingin saya raih. Jika ada pepatah yang bilang 'Kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina'. Maka pepatah untuknya adalah 'Kan ku kejar dollar hingga negeri Paman Sam' .
Bohong sekali jika saya tak pernah memikirkan apa yang terpenting untuk masa depan saya. Ya, fundamental segalanya adalah nilai material. Jika saya cukup mampu untuk terus menulis tanpa perlu bekerja menghidupi diri saya sendiri , maka akan saya tinggalkan semuanya demi meraih cita-cita saya. Tapi kenyataannya justru sebaliknya saya harus bunuh jiwa saya demi menghabiskan separuh hari saya di depan komputer untuk bekerja kepada orang lain.
Kembali lagi ke sosok FANP. Dengan keberanian sebesar itu dan perwujudan yang dia lakukan satu demi satu, saya yakin kesuksesan sudah di genggam hanya tinggal menapak tangga lebih tinggi lagi. Dan dalam permohonan saya kepada Yang Maha Memberi, saya titipkan satu doa untuknya.
Jika nanti waktu mempertemukan kami kembali, maka saya ingin sudah menjadi penulis. Saya juga ingin bangga terhadap diri sendiri di depan sosok itu. Dan saya pernah memiliki memory yang tidak akan saya lupa saat mengenal sosoknya. Tatapan mata dan senyuman itu pernah menjadi milik saya walau hanya lima menit. Saya tahu itu. Terdengar lucu, karena menyimpan kenangan yang mungkin tidak penting. Tapi saya sangat menghargai setiap kenangan dari setiap personal yang saya kenal dan pernah menjadi bagian hidup saya.
Jika impian diteriakkan dan ditulis kemudian menjadi alarm dalam otak bawah sadar kita, percayalah hasrat untuk mewujudkannya sangat nyata. Tak perlu melompat, berjalanlah setapak demi setapak. 'Seorang pemenang adalah yang membandingkan apa yang diraihnya dengan target yang dicanangkan. Sedangkan seorang pecundang adalah membandingkan apa yang diraih dengan raihan orang lain.' Tidak perlu kecewa setelah menyadari itu. Itulah kenapa ada kata 'instropeksi'. Lupakan dunia yang menghancurkanmu, tengoklah ke dalam jiwa surammu, cahaya apa yang kau perlukan untuk membuatnya terang.
Setelah kagum dengan seseorang, jadikan diri ini sosok yang bisa dikagumi.
Kelak hal itu bukan lagi khayalan tingkat tinggi. Ada yang menghargai tanda tangan saya saja sudah bisa membuat saya besar kepala, apalagi yang dengan kesungguhan hati mengagumi saya, hahaha...
Oh iya saya cantumkan picture of FANP... like my pa :D

Senin, 10 Agustus 2009

Dreams n A Key



Terperangkap dalam kenyamanan, ternyata bukan kebahagiaan yang didapat tapi kejenuhan dan kematian ide.
Perlu adanya pendobrak untuk dapat mengatakan kepada dunia di dalam jiwa bahwa tak layak dan tak sepatutnya untuk tetap singgah dalam kenyamanan itu. Itulah neraka kecil yang membawa kita pada kemalasan.
Tak ada lagi yang peduli saat kau berada di dalamnya, tak juga bisa menjadi seorang yang spesial. Padahal saya tak ingin menjadi orang yang biasa. Jika masih bisa menjadi seorang yang luar biasa kenapa harus terjatuh pada pilihan untuk menjadi seorang yang biasa saja.
Kadangkala banyak hal yang singgah dalam pemikiran ini tapi tak ada wadah yang tepat untuk mengapresiasikannya. Perlunya cambuk untuk setiap pemikiran agar tetap terjaga dan terpacu untuk mewujudkannya. Seharusnya menjadi kesadaran diri bila ingin maju dan sukses meraih apa yang diimpikan. Toch mimpi itu hanyalah kunci dan diri ini disertai dengan otak yang mau berusaha untuk mencari pintu dan memasukkan kunci itu pada pintu yang tepat serta memutarnyalah yang dapat mengantar saya pada sebuah pintu sukses, walaupun hanya satu diantara sekian pintu lain dan kunci yang begitu banyak bertebaran. Tidak menyerah untuk tetap mencoba itulah yang paling penting dan lebih utama dari apapun juga.
Ambisi saya saat ini adalah menjadi seorang penulis, disamping pekerjaan tetap saya sebagai seorang staf di perusahaan swasta. Entah harus mulai darimana, intinya saya memegang kunci itu tapi hasrat untuk mencocokkan kunci itu pada setiap pintu belum terpikirkan oleh saya. Kemana kunci ini pertama kali harus dicoba? Dan kalau gagal? Ketakutan seperti itu terjadi karena saya terlalu lama berada pada zona aman. Tak terbayangkan sulitnya berusaha dan mencoba. Hanya ingin berusaha dan berhasil. Terkadang kata-kata seperti gagal, tak ingin lagi saya dengar. Saya mudah sekali berpikir dengan hal yang saya sebut positif walalupun saya menyadari kata positif itu tidak membawa saya kemana-mana. Contohnya: dalam hubungan jika saya dan kekasih akhirnya harus terputus di tengah jalan maka opsinya adalah tidak jodoh, ataupun dalam pekerjaan jika saya gagal menjadi PNS atau karyawan sebuah perusahaan maka saya mengatakan bahwa bukan rejeki. Dan akhirnya saya menyadari satu sifat saya yang menurut saya baik juga disaat tertentu yaitu sifat menganggap enteng segala sesuatu atau bahasa sehari-harinya adalah tak mau ambil pusing.
Melalui pemahaman itu maka saya ingin mendobrak hal-hal yang melemahkan saya. Saya ingin berkata bahwa saya tidak lagi takut gagal atau terjatuh atau ditolak lagi. Melalui semua kesedihan yang telah saya alami, saya tahu ada sesuatu yang membuat saya tersenyum yaitu saat kebangkitan. Saat-saat seperti itu justru hadir saat saya merasa diremehkan dan direndahkan. Karena sejak kecil saya merasa jagoan maka hal itu seperti tamparan dipipi saya dan seakan ingin berteriak bahwa saya mampu untuk kembali bangkit dan bertarung lagi walaupun lebih banyak bukan di area yang sama. Saya tahu pintu yang menolak saya tidak layak untuk saya datangi lagi. Masih banyak seribu pintu, mengapa harus mencoba menaklukan yang pernah membuat saya tertampar? Saya menggenggam pepatah jika kamu gagal di satu tempat lewatkan tempat itu, kamu berharga ditempat yang memang berharga untukmu. Dan saya sedang mencari tempat itu, tentunya dengan semua kunci/impian yang saya genggam untuk saya pertaruhkan.
Dan kini saatnya saya harus berani untuk membuka sebuah pintu dengan kunci ditangan saya. Pintu apa yang terbuka? Tak ada yang tahu. Saya hanya percaya bahwa sesungguhnya Tuhan telah menyiapkan sebuah rencana yang indah untuk hidup saya. Dan saya hanya harus percaya.
Pada akhirnya setelah semua impian dan harapan diusahakan hanya ada satu aksi yang perlu dilakukan yaitu pasrah dan ikhlas. Jadilah padaku menurut perkataanMu.
Saya hanya bisa berharap biarkan saya menjadi penulis yang mungkin akan menjadi gila atau miskin. Tapi jika itu bisa memuaskan rasa yang saya miliki dan membuat saya menjadi lebih hidup, saya bersedia. Dunia menulis ini membuat saya berkobar dengan suatu energi yang saya rasa tak akan mampu saya padamkan. Inilah yang disebut terkurung dalam surga kecil.

Jumat, 07 Agustus 2009

Takut Sendiri

Saya pernah membaca tentang kisah seseorang yang dibukukan berjudul 'aku benci jatuh cinta'... Menarik dan terbenam di dalam otak dengan pemahaman yang tak pernah saya pahami. Benci jatuh cinta, diawali dengan ketertarikan kepada seseorang kemudian merasakan ada yang berbeda hingga rasa ingin memiliki tapi ada satu hal yang tak terperi yaitu benci menebak apa yang akan terjadi atau apakah mereka memiliki rasa yang sama. Dan kesimpulan akhirnya adalah dia mengakui bahwa dia takut hidup sendiri. Untuk itu dia memaknai semua misteri dalam hidupnya di kala jatuh cinta membuatnya menjadi sosok yang berbeda dan saat bersamaan rasa takut itu menderanya, takut sendiri...
Hal itu pernah menjadi bahan pemikiran saya selama bertahun-tahun. Apakah pada akhirnya saya harus hidup sendiri? Lalu bagaimana norma kesusilaan dan adat melihat yang terjadi pada saya kelak. Apalagi hati dan jiwa saya harus menanggung ini, karena pasti berimbas pada keluarga dan orang-orang terdekat dalam hidup saya. Dan rasa cemas yang berlebih itu mengantar saya pada sebuah ketakutan bahwa saya takut sendiri.
Terlalu banyak sekali pemikiran yang coba saya pecahkan satu persatu setiap kali didera pertanyaan benarkah saya takut sendiri. Sungguh saya takut, tak ingin menghabiskan seluruh berkah yang berlimpah dalam hidup hanya untuk saya habiskan sendiri. Saya ingin berbagi. Dan saya tahu bahwa menghabiskan hidup dengan seseorang itu penting. Tapi adalagi yang lebih penting yaitu dengan siapa akan saya habiskan karunia ini. Bukan saya takut salah pilih. Toch sesungguhnya tak ada yang ideal, dan juga saya tak berniat untuk menjadikan seseorang sebagai pantulan diri yang saya inginkan. Tapi bukankah kita harus melewati beberapa orang yang salah untuk dapat memastikan yup, this is!..
Tapi beberapa kali mengalami hal serupa yaitu jatuh cinta, saya mengerti rasanya benci jatuh cinta, karena efek terburuk yang saya peroleh yaitu kehilangan dan hidup dalam pemikiran yang tak menentu/menebak. Tapi ada juga hal positif dan baiknya seperti menemukan seseorang atau mempunyai seseorang yang bisa diajak untuk sharing, dapat mengungkapkan isi hati dan menghapus kegundahan jiwa. Untuk itu saat jatuh cinta dapat juga menyebabkan penyakit jantung, gagal ginjal dan hal lain seperti halnya akibat dari merokok. Jadi, hal itu sungguh membahayakan hati dan merusak jiwa. Bukankah lebih baik sakit gila daripada sakit jiwa, tapi senadainya saya boleh memilih maka itu bukan pilihan yang saya sukai. Toch bercita-cita menjadi seorang penulis saja sudah membuat saya gila, apalagi ditambah jatuh cinta yang bisa membuat double crazy. Itulah mengapa kata Cinta bisa membuat saya sakit, karena saya tau konsekuensinya. Pada dasarnya setiap orang pernah menjadi dokter cinta bagi diri dan sesamanya. Tapi penangkal apakah yang akan kita bagi, obat atau racun. Pilihan yang sangat mudah saat kita berpikir normal, tapi dalam kamus cinta semua logika sirna tak bersisa. Racun bisa jadi obat, obatpun kita anggap racun.
Tanyakan cinta pada saya, tak akan ada jawaban. Karena cinta saya aplikasi dari teori cinta. Jawabannya hanya akan muncul saat anda bersama saya menjalani hidup ini bersama-sama. Disanalah cinta saya yang akan menjawab, bukan saya. Cinta saya malu-malu hanya akan terlihat oleh seorang yang merasakannya.
Bagaimana? Masihkah perlu bertanya apa itu cinta...Saya harap jangan karena bisa merusak diri anda jika anda terobsesi olehnya.

Selasa, 04 Agustus 2009

Magic Box bernama Toilet

The Men’s Guide to the Women’s Bathroom

Setelah buka dan baca blog di http://www.kutukutubuku.com/ tentang pengalaman unik di toilet, jadi teringat kisah beberapa bulan lalu ketika di toilet Blitz Megaplex...

Waktu itu ada acara nonton sama genk 8 (kumpulan cewek cewek yang beranggotakan 8 orang) di Blitz Megaplex dan film yang akan ditonton adalah The International. Setelah film usai saya dan dua orang teman ke toilet, kalau pernah kesana pasti tahu bahwa toiletnya bernuansa dark (serba hitam).
Keluar dari toilet dekat kaca saya melihat seorang ibu sedang membersihkan bagian bahu belakang kaos gadis kecilnya yang saya perkirakan berumur 9 tahun. Dengan posisi menghadap kaca gadis kecil itu hanya terdiam dan terlihat tidak perduli dengan ceramahan ibunya. Tapi setelah saya amati ternyata bukan tidak perduli tapi dia sedang melihat sosok dibelakangnya melalui kaca didepannya.
Sesaat saya menoleh kearah yang dilihatnya, ternyata seorang gadis remaja memakai jaket kuning digulung sedang mencuci tangan. Apa yang menarik? pikir saya ketika itu. Mungkin rambut pendeknya yang bergaya spike dengan warna sedikit terang. Gadis remaja itu berbalik menatap kaca untuk mengacak-acak rambutnya (menurutku). Tanpa berhadapan kedua orang ini bertatapan di kaca, si gadis kecil menatap kagum dan si gadis remaja hanya tersenyum. Senyum yang mengajak seseorang untuk tersenyum juga. Tak ada kata yang terucap dan semua berlalu begitu cepat.
Adegan melihat kaca dengan menatap orang lain sungguh membuat saya merasa bahwa di tengah kegelapan ini kaca seperti mempunyai daya magis yang membuat orang lalu lalang di toilet berhenti sejenak untuk saling memperhatikan.
Dan apa yang membuat gadis kecil itu terpaku dan tak perduli dengan keadaan sekitar tapi terpatri pada satu sosok? Jawabnya adalah karena gadis remaja itu seperti atau mungkin dia Agnes Monica. Entahlah, tapi perjumpaan seperti ini mungkin membawa kesan tersendiri untuk gadis kecil itu walau hanya disebuah toilet sempit dan tak ada orang yang memperhatikan satu sama lain.
Tidakkah kita berpikir bahwa setiap orang yang berbaur diluar ternyata mempunyai space atau ruang tersendiri yang menakjubkan dan bisa dibilang magic box bernama toilet, tempat membuang yang harus dibuang dan merapikan setiap bagian diri untuk merasa percaya diri ketika berbaur kembali ke lingkungan luar.
Dan hal yang membuat saya tertarik untuk ikut, selain sebuah buku gratis adalah judul daripada buku ini 'The Men's Guide to The Women's Bathroom'. Dan buku terbitan gagas media selalu menarik minat saya, terlebih belum pernah sebelumnya saya membaca sebuah buku yang mengupas sisi kewanitaan melalui hal yang pribadi tapi sering dilupakan yaitu toilet atau kamar mandi.
Jadi penasaran dengan isinya.
Semoga lebih dari yang saya bayangkan.