
Seminggu di weekend panjang karena senin libur dirgahayu RI yang ke 64. Saya menyempatkan waktu untuk hadir pada pesta pernikahan dan acara reuni anak kuliah tim 8. Walaupun sangat melelahkan tapi meninggalkan kesan yang cukup bagi saya, dan saya sangat bahagia menghadiri semua itu.
Diawali hari sabtu tanggal 15 agustus ke acara Joan & Yosie Wedding di King's Restaurant, Cikini. Saya tiba tepat pukul 19.00, jadi saya mengikuti semua proses berlangsungnya dari potong kue sampai berfoto (saya tidak ikut berfoto). Acara yang cukup sederhana elegan dan dibalut nuansa kekeluargaan yang sangat khas. Disini saya hampir saja menghancurkan pesta itu jika saya membawa kabur pengantin pria, apa jadinya. Hal itu sempat terlintas ketika Joan selama pesta berlangsung justru memperhatikan saya. Ach Joan, tampaknya kisah yang dulu bagimu belum berakhir ya. Segera setelah makan saya meninggalkan Cikini, membelah kota jakarta di malam minggu. Banyak seniman jalanan berkeliaran dan juga pasangan kekasih ada dimana-mana. Malam yang membuat perasaan jadi lebih bebas berekspresi.
Hari minggu saya menghadiri reuni di Pasaraya Grande. Bertemu dengan kumpulan wanita membahas rencana ke Cepu untuk Erna's Wedding. Masalah tiket hingga penginapan. Telah diputuskan dan akan segera berangkat pada hari Jum'at di awal oktober.
Malam itu mantan kekasih saya datang hanya untuk berbincang-bincang, kami sempat keluar untuk menikmati roti bakar di daerah Cijantung. Sedikit hal yang dibicarakan, walau ada keinginan diantara kami berdua untuk kembali, tapi entah mengapa malam itu saya sedang tidak ingin berpikir ke arah sana. Saya percaya jodoh di tangan Tuhan. Dia pulang jam setengah sebelas malam.
Merenungi apa keputusan yang akan saya ambil. Ini bukan keputusan sesaat, tapi harus dipikirkan dengan sangat mendetail. Ini adalah keputusan seumur hidup yang harus saya jalani, dan tak ingin menjadi bodoh atau ceroboh hanya karena waktu yang terus berkejaran dengan usia.
Jika pada awalnya seleksi menjadi utama, maka tak ada waktu untuk mengenal seseorang lebih lama jika chemistry tidak ditemukan. Beralih dan mulai mengenal kembali sosok yang baru.
Tapi dibalik semua itu menghabiskan waktu seumur hidup dengan seseorang itu menyenangkan. Tapi dengan siapa saya akan menghabiskannya, itu lebih penting dari seumur hidup itu sendiri.
Dan langkah pertama saya adalah menghabiskan waktu dengan ambisi saya. Itulah mengapa hasrat saya tentang cinta sedikit sekali terpikirkan. Pasti ada waktunya. Saya tidak menyisihkan, tapi sedikit lebih membagi porsi yang lebih kecil kepada hal yang tidak pasti. Karena ada hal yang lebih besar yang harus mendapat perhatian saya.
Dan perjalanan weekend kemarin mengantar saya pada satu jendela jiwa yang ingin saya raih. Perenungan yang singkat tapi mengantar saya pada satu langkah yang harus saya lalui.
Dan ternyata resolusi itu tidak harus dipaksakan. Itu akan datang melalui suatu harapan dan doa. Maka tidak lagi terbebani ketika delapan bulan berlalu dan impian saya tentang resolusi itu terbuka lebar di lembar yang pernah saya tuliskan. Tak ada penyesalan, karena saya juga tahu kemampuan saya untuk meraihnya. Dan saat itu saya tersadar mungkin jika menjalani bersama seseorang lebih fokus pada satu tujuan. Tapi sudahlah toch cinta sekarang bukan prioritas utama lagi.
Lalu apa prioritas saya : yang pertama tentu kepada Tuhan, kemudian impian saya, cita, keluarga, cinta dan sekitar saya.
Tak ada yang saya inginkan saat ini selain mewujudkan impian saya.
And full hope i wish my dream comes true...
Diawali hari sabtu tanggal 15 agustus ke acara Joan & Yosie Wedding di King's Restaurant, Cikini. Saya tiba tepat pukul 19.00, jadi saya mengikuti semua proses berlangsungnya dari potong kue sampai berfoto (saya tidak ikut berfoto). Acara yang cukup sederhana elegan dan dibalut nuansa kekeluargaan yang sangat khas. Disini saya hampir saja menghancurkan pesta itu jika saya membawa kabur pengantin pria, apa jadinya. Hal itu sempat terlintas ketika Joan selama pesta berlangsung justru memperhatikan saya. Ach Joan, tampaknya kisah yang dulu bagimu belum berakhir ya. Segera setelah makan saya meninggalkan Cikini, membelah kota jakarta di malam minggu. Banyak seniman jalanan berkeliaran dan juga pasangan kekasih ada dimana-mana. Malam yang membuat perasaan jadi lebih bebas berekspresi.
Hari minggu saya menghadiri reuni di Pasaraya Grande. Bertemu dengan kumpulan wanita membahas rencana ke Cepu untuk Erna's Wedding. Masalah tiket hingga penginapan. Telah diputuskan dan akan segera berangkat pada hari Jum'at di awal oktober.
Malam itu mantan kekasih saya datang hanya untuk berbincang-bincang, kami sempat keluar untuk menikmati roti bakar di daerah Cijantung. Sedikit hal yang dibicarakan, walau ada keinginan diantara kami berdua untuk kembali, tapi entah mengapa malam itu saya sedang tidak ingin berpikir ke arah sana. Saya percaya jodoh di tangan Tuhan. Dia pulang jam setengah sebelas malam.
Merenungi apa keputusan yang akan saya ambil. Ini bukan keputusan sesaat, tapi harus dipikirkan dengan sangat mendetail. Ini adalah keputusan seumur hidup yang harus saya jalani, dan tak ingin menjadi bodoh atau ceroboh hanya karena waktu yang terus berkejaran dengan usia.
Jika pada awalnya seleksi menjadi utama, maka tak ada waktu untuk mengenal seseorang lebih lama jika chemistry tidak ditemukan. Beralih dan mulai mengenal kembali sosok yang baru.
Tapi dibalik semua itu menghabiskan waktu seumur hidup dengan seseorang itu menyenangkan. Tapi dengan siapa saya akan menghabiskannya, itu lebih penting dari seumur hidup itu sendiri.
Dan langkah pertama saya adalah menghabiskan waktu dengan ambisi saya. Itulah mengapa hasrat saya tentang cinta sedikit sekali terpikirkan. Pasti ada waktunya. Saya tidak menyisihkan, tapi sedikit lebih membagi porsi yang lebih kecil kepada hal yang tidak pasti. Karena ada hal yang lebih besar yang harus mendapat perhatian saya.
Dan perjalanan weekend kemarin mengantar saya pada satu jendela jiwa yang ingin saya raih. Perenungan yang singkat tapi mengantar saya pada satu langkah yang harus saya lalui.
Dan ternyata resolusi itu tidak harus dipaksakan. Itu akan datang melalui suatu harapan dan doa. Maka tidak lagi terbebani ketika delapan bulan berlalu dan impian saya tentang resolusi itu terbuka lebar di lembar yang pernah saya tuliskan. Tak ada penyesalan, karena saya juga tahu kemampuan saya untuk meraihnya. Dan saat itu saya tersadar mungkin jika menjalani bersama seseorang lebih fokus pada satu tujuan. Tapi sudahlah toch cinta sekarang bukan prioritas utama lagi.
Lalu apa prioritas saya : yang pertama tentu kepada Tuhan, kemudian impian saya, cita, keluarga, cinta dan sekitar saya.
Tak ada yang saya inginkan saat ini selain mewujudkan impian saya.
And full hope i wish my dream comes true...


