Selasa, 15 Juli 2008

Berkelana ..(Walk to the jungle)

Walk to The Jungle.... And Lost.... It's really nice dream, without animal of course...hehe... :)

Aku pernah berkelana dengan teman-teman ke sebuah tempat yang bisa di bilang pendakian pertama yaitu ke gunung Pangrango. Itu sudah lama sekali ketika masih berseragam putih biru. Memang hanya empat hari, tapi membawa aku ke sebuah dunia bernama kekaguman. Jaraknya tidak jauh dari Jakarta dan bagiku dulu itu jauh. Melintasi alam yang boleh dibilang duh hijau sekali, sejuk, dan dingin ketika malam. Tak terbayangkan mengelilingi dan berjalan meraih puncak yang entah apakah aku telah sampai pada puncak itu. Karena ketika berjalan terus menerus diantara jalan setapak yang ampun licin sekali, aku sudah tidak berharap akan menemukan puncak gunung itu. Berkemah sebentar melindungi diri dari sergapan kegelapan yang kita pun tak tahu apakah ada ditengah hutan atau justru dipinggir jurang. Membuat api unggun dari tumbukan batu bata dan batang kayu. Bercerita...Tapi aku lebih suka bersembunyi di dalam selimut yang mulai terasa lembab. Huh udara yang seolah meruntuhkan semua tulangku. Ketika pagi menjelang aku menyukainya, termasuk menatap diantara pepohonan tinggi. Seolah sinarnya yang menembus diantara celah-celah pepohonan bagaikan sebuah harapan diantara kehampaan. Aku menyukai udara pagi pegunungan, menyeberangi sungai yang entah mengapa telah menmbasahi sebagian perbekalan dan baju yang aku pakai. Tapi aku tetap senang, karena sampai siang matahari akan bersinar lebih lama. Menyanyi sepanjang jalan dan saling berpegangan diantara jalan yang basah. Aku sangat menyukai teman-teman seperjalananku yang hanya bertujuh ini.

Kadang kala jika aku penat, aku dapat merasakan bahwa sekali-kali mengenang itu semua atau bahkan mereview perjalanan itu lagi tak ada salahnya, bahkan sangat ku nantikan dan membuatku merasa segar kembali. Aku mencintai alam dan aku merasa aku bagian dari alam yang takkan terpisahkan. Aku tidak menyukai materi dan lebih memilih kebebasan. Aku tidak menyukai kesibukan melainkan ketenangan. Aku tidak menyukai permusuhan tapi bergandengan. Aku terbentuk dari alam dan aku tahu aku akan kembali pada alam. Dan berkelana seperti dulu mungkin akan jarang aku lakukan, tapi berkelana dalam hidup bukan sekedar mendaki gunung atau menyeberangi sungai. Lebih dari pada itu berkelana dalam hidup adalah melawan arus kehidupan dan menghadapi segunung persoalan yang tak akan ada habisnya. Disinilah hidup dimulai dan disini pulalah harapan berkembang. Banyak hal yang bisa kukenang dan banyak hal yang akan terlupakan. Tak ada yang abadi seperti aku berharap akan melihat matahari pagi hari ketika fajar menyingsing. Dan akan tetap fajar selamanya. Bukankah siang dan malam sedang menanti pergeseran itu. Dan aku tak bisa mencegahnya, tua dan tiada akan datang. Dan aku harus siap dengan semua itu. Tak akan kutakuti tapi aku turuti....