
Everybody changed...
Percaya? Percayalah banyak hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, seperti halnya aku.
Aku berbincang mengenai banyak hal yang akan aku ambil di kehidupan baru yang akan menanti aku di masa depan. Aku kecewa ketika ku utarakan mengenai obsesiku terhadap pekerjaan dan pendidikan yang aku ambil kelak ketika aku berumah tangga. Dia menginginkan aku berada di rumah menjadi ibu rumah tangga yang baik. Kuakui aku sangat menginginkan itu ketika kecil, menyiram tanaman di pagi hari membuatkan keluargaku sarapan, mengantar anak sekolah, menyiapkan bekal dan menanti mereka semua berkumpul ketika malam, membuat camilan, bercanda dan menghabiskan sepanjang waktu bersama mereka. Tapi kini keadaan tak seperti yang pernah kubayangkan tentang kisah romantis yang tak bertepi. Kini bukan pangeran berkuda putih atau istana gemerlap yang menanti seorang putri. Keadaan telah berubah menjadi tidak menentu dan kita tersesat di dalamnya. Betapa kini aku menginginkan menjadi wanita bekerja dan ibu yang siap sedia. Aku ingin menjadi kebanggaan anakku kelak dengan tidak hanya berpendidikan setingkat ini. Banyak hal yang menjadi keinginanku untuk mereka semua. Aku tidak tahu jika pilihanku ini menjadi hal egois dalam bayangannya. Memang aku tidak memiliki tenaga yang super untuk menjalani itu semua, tapi ijinkan aku melakukan hal yang menjadi impianku. Aku ingin bersamanya untuk bersama membangun sebuah keluarga yang aku dan dia dambakan. Awalnya tidak begitu sulit ketika cinta hanya menjadi landasan untuk setiap pasangan berkomitmen tentang banyak hal. Dan dari banyak hal itu pulalah merentang harapan yang tak kalah sulit utnuk direalisasikan. Dulu ketika kita pernah berdiskusi tentang ini, aku mengalah dan berpikir itu manis sekali, seperti katanya 'aku ingin ada yang menantikan aku ketika pulang kerumah' . Tapi salahkah aku menyia-nyiakan pendidikan dan pekerjaan yang telah aku dapatkan selama ini dengan dukungan orangtuaku, aku juga ingin membahagiakan mereka. Waktu berlalu dengan kejam membawa setiap obsesi yang terlupakan menjadi nyata dan seolah akan menerkam kebahagiaan lain.
Kau begitu nyata dan obsesiku belumlah seberapa nyata. Di waktu yang kian menipis untuk kita bersatu, aku semakin bimbang untuk melangkah bersamamu. Haruskah aku merelakan semua ini, atau adakah kau mengijinkan aku meraih mimpiku. Kusadar bahwa hidup kedepan akan semakin terjal dengan segala tuntutan hidup yang tak pernah habis, dan aku juga tak ingin hanya kau saja yang berjuang untuk hidup kita kelak. Aku ingin kita melangkah bersama, memenuhi semua impian kita. Kini jika kau berkata bahwa aku telah berubah, hatiku perih. Bukan aku tidak menurutimu, tapi pandanglah dari sudutku memandang. Kini aku, kau dan obsesiku seolah telah merasuki pikiranku dan membuatku sulit untuk melangkah jauh. Saat ini entah mengapa, aku jadi ragu, teramat ragu untuk hidup bersamamu jika nanti kau kecewa dengan keputusan yang aku ambil, sanggupkah kau memaafkan aku dan melepas kekanganmu pada sayapku?. Ach sudahlah, aku takut kau takkan mengerti, dan aku tak yakin kau akan menerima pemikiranku. Aku ingin sekali berkata padamu tentang apa yang ada dihatiku, tapi aku juga tak ingin kau pergi dari hidupku. Perjalanan selama 4 tahun bukan suatu waktu yang pendek untuk saling mengenal. Sekarang kita seperti dua orang asing. Aku lelah mengulang atau memulai suatu perjalanan yang baru, tapi seumur hidup yang akan aku jalani juga bukan hal sepele. Disini kita terdiam, saling bicara dalam hati dengan logika, dan sampai saat ini belum mengambil keputusan terbaik bagi berdua. Semoga hatimu melunak, itu saja harapku.
Kini, aku sedang merancang suatu hal yang kelak suatu hari nanti kau tahu... Dan sabarlah, hari itu akan datang dan ku harap kau bahagia. Kau tahu, aku pernah memikirkan ini 'sejauh apapun aku melangkah, aku pasti kembali', dan kemudian aku akan bingung sendiri dengan pertanyaan, kenapa ya?....
Lucu, itulah kita.... Tidak pernah konsisten... Tapi itulah keunikan kita, dan kita menyadari itu tapi tak pernah mempermasalahkan dan justru semakin membuat kita tersenyum satu sama lain. Dan mungkin nanti itulah yang akan kukenang selama hubungan ini.